Lifephtia



Pada fase ketika hidup memberi kesempatan hati untuk bercanda. menemukan sesuatu yang lebih besar dari logam dan kain pel. membeli senyuman yang lebih indah dari sekadar "pagiiiiiii ^_^". mencapai tebing berlumuran letih yang memiliki harga setara dengan: syurga. ya, maka pada saat itu juga dapat  dikatakan, bahwa hidup adalah rantai waktu yang tak akan berhenti, bahkan ketika udara tak sanggup lagi terhirup dengan sempurnanya. tiap manusia tertidur pulas di alam bawah tanah. menikmati hisab yang entah jatuh pada akhir yang mana.

sempat saya pelan-pelan bertanya pada seonggok jerami (?). bagaimana kah hidup yang hidup itu sesungguhnya? namun hanya asap yang saya dapat. melangkah perlahan dan saya menjumpai kerikil. tanpa menginginkan asap sama sekali, segera saya menanyakan kembali: bagaimana kah hidup yang hidup itu sesungguhnya? namun hanya debu yang saya dapat. bosan. merasa leceh dengan jerami dan kerikil, saya bertanya pada manusia. bagaimana kah hidup yang hidup itu sesungguhnya?. tebaklah apa yang saya dapatkan. "siapa loh?". culas. begitu saya menyebutnya. atau bahasa buku PPKN, menyebutnya dengan acuh tak acuh.

apapun itu, pada fase ketika hidup memberi kita ruang untuk sebuah kehidupan. maka teruslah bergerak tanpa harus 'merasa' bahwa sakit itu 'penting'. karena percayalah.... semakin dingin musim dingin, berarti daun-daun akan segera bersemi dan indah pada waktu yang tepat :)













sumampir-menuju jogja, 14/7

Tag : Random
0 Komentar untuk "Lifephtia"

Back To Top