Secara tiba-tiba saja, Allah mengirimkan sesuatu bernama rindu. memang, rindu itu tak sesederhana capucino di tengah hujan. jika saja boleh, saya ingin rindu setiap malam, agar lebih mudah meleleh terbawa arus. membuat hati tak mampu lagi menjadi sekeras granit. dan melupakan salah siapapun yang saya rindukan. karena, rindu kadang menjadi alasan untuk memaafkan. atau malah, saya rindu pada salah-nya. pada marah-nya. pada egois-nya. haha
kakak, saya merindukan kakak #eh abang maksudnya. atau yang biasa saya panggil 'mas'. meski (seingat saya) belum banyak track record romantika kami selama menyandang status kaka-adik. lebih sering berkonflik di masa muda. tapii, entahlah romantika itu mengalir pada usia beranjak dewasa, sedang jarak beranjak menjauh. maka pada saat bersamaan, tentu rindu semakin mendekat. "gpp, gw beliin aja. tapi mungkin ini yang terakhir, gw ga tau bisa beliin lagi apa ngga taun depan, kan gw udah punya keluarga sendiri"
di satu sisi, ada seorang kakak yang apatis, nyebelin tingkat mahameru, belakangan ketika bertahun-tahun sudah saya nun jauh di purwokerto, saya melihat betapa ia mencoba menjadi seorang kakak. ya, kami telah berusaha menjadi kakak-adik dengan gaya yang kami miliki.
karna jarak menimbulkan rindu. dan rindu membuat ego menjadi pasif. maka yang bertemu adalah cinta #tsah. ah, mamah dan bapak mungkin pernah menduga bahwasanya kami tidak ada potongan kaka-adik yang romantis dan belebean layaknya kakak-adik yang lain. maka akhirnya, jarak-lah yang memberikan pelajaran bagi kami: bahwa seorang kakak sangat berharga bagi adiknya, dan sebaliknya....
~GR
Tag :
Random
0 Komentar untuk "memoire"