Seharusnya dua malam ini menjadi hal
yang sangat biasa untuk saya. Mungkin ini efek menyruput kopi aceh dua malam
berturut-turut. Atau indikasi bahwa saya telah ‘sembuh’. Allah sedang menguji
saya dengan waktu lapang, sampai saya pikir skripsi saya nyaris selesai dalam
dua malam ini. Nyatanya imajinasi semacam itu tidak cukup membuktikan teori
konyol tadi. Saya tetap saja mahasiswa semester enam, yang masih limbung dengan
tentatif dan proposal dakwahnya.
Dibikin susah atau tidak, waktu akan
senantiasa berjalan dan membuat kita semakin letih. Itu benar. Sama halnya
dengan ingatan saya yang masih jernih, soal seorang adik yang beberapa malam
ini saya agak mengkhawatirkannya. Betul sih, kalau kami telah menitipkanmu pada
Allah saja dik, tapi akan menjadi salah ketika saya menitipkanmu padaNYA namun
keimanan saya masih ringkih. Kita menjadi jembatan yang jauhnya membuat saya
tidak tidur. Beberapa kali ketika menuliskan sistem informasi geografis, data
spasial, data raster, piksel dan kawan-kawannya… juga nasibmu yang terbayang
lagi. Ini murni kesalahan saya dik, tanpa iman itu rasanya dakwah kita tidak
ada apa-apanya. Akhirnya saya ragu dengan kapabilitas saya untuk menitipkanmu
pada Allah. Benar-benar bukan pada Allah saya membuang segala salah, namun
sudah pasti, sa-ya. Sekali lagi: saya. Cukup jelas? Saya yang salah karena
telah melewati ujianNYA tanpa standar keseriusan, malah mungkin lebih
ber-euforia ketika ujian snmptn dulu. Menyedihkan.
Hati saya makin jauh teriris, apalagi
mendengar putusan sore tadi. Kabarmu? Biar saya mulai lagi dari nol ya, saya
titipkan kau pada Allah (saja). Sudah cukup main-mainnya. Pasti sangat sakit
kehilangan kau dan sederet nama lainnya.
Semangat yaa :)
malam 17, april, widya puri
malam 17, april, widya puri
Tag :
Random
0 Komentar untuk "kopi aceh dan adik yang terindukan"